Jakarta (KABARIN) - Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi membantah isu melemahnya kekuatan persenjataan Iran dengan menyampaikan bahwa Teheran memiliki jumlah rudal dan amunisi yang banyak seiring keaktifan produksi persenjataan konvensional.
“Kami bukan hanya memiliki jumlah rudal dan amunisi yang banyak tetapi pada saat bersamaan jaringan produksi persenjataan konvensional di negara kami juga berlangsung aktif,” kata Dubes Boroujerdi dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta, Kamis.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), yang bertanggung jawab atas aktivitas militer Amerika di Timur Tengah, mengatakan pada Rabu bahwa peluncuran rudal Iran telah turun sebesar 86 persen dan peluncuran drone turun 73 persen dalam empat hari terakhir.
Seorang pejabat Barat sebelumnya mengatakan bahwa jumlah peluncuran rudal balistik Iran menurun sebagai akibat dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap lokasi peluncuran serta fasilitas yang memproduksi rudal tersebut.
Menepis laporan tersebut, Dubes Boroujerdi mengatakan bahwa tidak ada yang mengetahui jumlah amunisi maupun kekuatan rudal negara lain, dan hanya medan perang yang mampu menentukan pihak mana yang terlebih dahulu kehabisan amunisi.
“Tentu tidak ada yang mengetahui secara persis seberapa kekuatan rudal dan berapa jumlahnya dari setiap negara. Hanya medan perang yang akan menentukan siapa yang akan habis amunisi … Amerika itu hanya ingin menyampaikan cita-citanya saja,” tambah dia.
Pada Sabtu (28/2), Israel telah melancarkan serangan terhadap Iran, yang merupakan serangan kedua yang dilakukan oleh Israel dan AS setelah serangan pertama ke Iran pada Juni 2025.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pasukan Amerika meluncurkan operasi militer besar di Iran untuk melindungi rakyatnya dengan meniadakan ancaman yang disebutnya berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir oleh Iran.
Iran kemudian meluncurkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Eskalasi di kawasan itu terjadi di tengah berlangsungnya perundingan nuklir di Jenewa antara AS dan Iran yang dimediasi Oman.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026